KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 

Dilema Etika & Bujukan Moral

Paradigma Pengambilan Keputusan

Prinsip Pengambilan Keputusan

9 Langkah Pengambilan Keputusan


·            Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantara, khususnya dalam konsep Pratap Triloka (Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani), memiliki kaitan erat dengan pengambilan keputusan seorang pemimpin. Pratap Triloka menggambarkan tiga prinsip penting dalam memimpin dan membimbing orang lain, yang sangat relevan dalam konteks pengambilan keputusan yang bijaksana. Berikut penjelasannya terkait dengan pengambilan keputusan sebagai pemimpin:

1.         Ing Ngarsa Sung Tuladha (Di depan memberi teladan):

Seorang pemimpin yang baik harus mampu memberi contoh melalui tindakan dan keputusan yang mereka buat. Dalam konteks pengambilan keputusan, ini berarti pemimpin harus mampu menunjukkan integritas, konsistensi, dan etika dalam setiap keputusan yang diambil. Keputusan yang mereka buat tidak hanya berdampak pada hasil, tetapi juga membentuk budaya dan perilaku di antara anggota tim atau masyarakat yang dipimpinnya.

Pemimpin yang memberi teladan dalam hal pengambilan keputusan akan mendorong orang lain untuk mengikuti standar moral dan etika yang tinggi, menciptakan kepercayaan dan kredibilitas.

2.         Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah membangun semangat):

Seorang pemimpin yang berada "di tengah" harus mampu membangun semangat dan memberdayakan orang-orang di sekitarnya. Dalam konteks pengambilan keputusan, ini berarti pemimpin harus terbuka terhadap masukan dan kolaborasi dari orang lain, mengajak tim atau komunitas untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan.

Dengan bersikap terbuka dan mendengarkan ide-ide dari berbagai pihak, pemimpin akan mampu membuat keputusan yang lebih inklusif dan bijaksana. Keputusan yang diambil bersama-sama cenderung lebih diterima oleh semua pihak, dan membangun semangat kebersamaan serta tanggung jawab kolektif.

3.         Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dorongan):

Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan dukungan dari belakang, membiarkan orang lain mengambil inisiatif dan bertanggung jawab setelah keputusan dibuat. Ini berkaitan dengan delegasi dan pemberdayaan, di mana pemimpin mempercayai orang lain untuk menjalankan keputusan tersebut.

Dalam konteks ini, pengambilan keputusan tidak hanya tentang pemimpin itu sendiri, tetapi juga tentang bagaimana mereka mendukung dan mengarahkan orang-orang di sekitarnya untuk bertindak berdasarkan keputusan yang telah dibuat. Pemimpin yang mampu memberi dorongan dan kepercayaan akan membantu individu atau tim merasa memiliki tanggung jawab atas hasil dari keputusan tersebut, meningkatkan rasa percaya diri dan inisiatif.

Secara keseluruhan, Pratap Triloka menekankan keseimbangan dalam kepemimpinan: memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberikan dukungan di belakang. Dalam pengambilan keputusan, filosofi ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus:

·            Berprinsip dan memberi contoh moral yang kuat,

·            Melibatkan dan memberdayakan orang lain dalam proses keputusan,

·            Mendukung dan mempercayai tim untuk menjalankan keputusan yang diambil.

Dengan pendekatan ini, pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin menjadi proses yang lebih bijak, inklusif, dan berkelanjutan, di mana tanggung jawab kepemimpinan tidak hanya berada pada pemimpin itu sendiri, tetapi juga didistribusikan kepada semua pihak yang terlibat.

 

·            Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita memainkan peran mendasar dalam membentuk prinsip-prinsip yang kita gunakan saat mengambil keputusan. Nilai-nilai ini bisa berasal dari pendidikan, pengalaman hidup, budaya, agama, dan lingkungan sosial kita. Berikut adalah beberapa cara bagaimana nilai-nilai tersebut memengaruhi proses pengambilan keputusan:

1.         Memandu Prioritas dalam Pengambilan Keputusan

2.         Membangun Prinsip-Prinsip Etis dan Moral

3.         Menghadirkan Konsistensi dalam Pengambilan Keputusan

4.         Membantu Mengatasi Dilema Moral

5.         Menentukan Seberapa Besar Risiko yang Dapat Diterima

6.         Menggerakkan Emosi yang Mempengaruhi Keputusan

 

·            Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Kaitan materi pengambilan keputusan dengan coaching yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam proses dalam proses pembelajaran. Coaching bertujuan untuk membantu individu dalam membuat keputusan yang lebih bijaksana, reflektif, dan berdasarkan nilai-nilai yang kuat. Berikut adalah beberapa cara bagaimana pengambilan keputusan terkait dengan coaching:

1.         Mendukung Proses Refleksi atas Keputusan

·            Apa motivasi di balik keputusan tersebut?

·            Bagaimana keputusan itu dibuat?

·            Apa dampak jangka pendek dan jangka panjang dari keputusan tersebut?

Refleksi ini membantu individu memahami pola pikir dan prinsip yang mereka gunakan, memungkinkan mereka untuk belajar dari pengalaman dan mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan yang lebih baik di masa depan.

 

2. Membantu Menghadapi Dilema dalam Pengambilan Keputusan

Dalam proses coaching, seringkali individu menghadapi dilema atau situasi yang rumit di mana tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar atau mudah. Coach berperan sebagai pendamping yang netral untuk membantu individu mendalami pilihan-pilihan yang ada. Mereka tidak memberikan solusi langsung, tetapi melalui teknik pertanyaan terbuka dan eksplorasi

·            Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional dirinya sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, terutama ketika menghadapi dilema etika. Hal ini penting karena keputusan yang melibatkan dilema etis sering kali tidak hanya soal benar atau salah secara objektif, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor emosi, empati, dan keterhubungan sosial.

·            Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai yang dianut seorang pendidik, karena nilai-nilai inilah yang menjadi dasar dan pedoman bagi pendidik dalam mengambil keputusan dan merespons situasi yang mengandung dilema etis.

·            Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Keputusan-keputusan yang dibuat oleh pemimpin, guru, atau pendidik tidak hanya memengaruhi hasil langsung dari suatu situasi, tetapi juga membentuk budaya dan dinamika sosial di lingkungan tersebut. Berikut adalah beberapa cara bagaimana pengambilan keputusan yang tepat dapat berdampak pad a terciptanya lingkungan yang mendukung:

1. Menciptakan Lingkungan yang Adil dan Setara

2. Membangun Kepercayaan dalam Komunitas

3. Menjaga Stabilitas Emosional dan Sosial

4. Mendorong Partisipasi Aktif dan Keterlibatan

5. Meningkatkan Kedisiplinan yang Bersifat Positif

·            Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

1.       Ketidak sesuaian kekuasaan

2.       Lingkungan sosial dan budaya

3.       Nilai – nilai sosial setempat

Ketiga hal diatas sangat erat kaitanya dengan perubahan paradigm diman dengan tantangan ini seorang pemimpin harus dapat mengambil langkah langkah yang tepat untuk kepentingan bersama.

 

·            Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh Pengambilan Keputusan terhadap Pengajaran yang Memerdekakan

1.      Kemandirian Siswa: Keputusan yang mendukung pendekatan pengajaran yang memerdekakan memungkinkan siswa untuk memiliki suara dalam proses belajar mereka. Hal ini bisa meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepemilikan terhadap pembelajaran.

2.      Pembelajaran Kontekstual: Dengan mempertimbangkan latar belakang dan minat siswa, keputusan yang diambil dapat membuat pembelajaran lebih relevan dan bermakna. Ini dapat mendorong keterlibatan siswa dan membantu mereka melihat hubungan antara pembelajaran dan kehidupan sehari-hari.

3.      Diferensiasi Pembelajaran: Keputusan yang didasarkan pada pemahaman tentang kebutuhan dan potensi unik setiap siswa memungkinkan diferensiasi dalam pengajaran. Ini membantu memastikan bahwa semua siswa dapat belajar dengan cara yang sesuai dengan gaya dan kemampuan mereka.

Memutuskan Pembelajaran yang Tepat untuk Potensi Murid yang Berbeda-beda

1.      Analisis Kebutuhan Siswa: Mengumpulkan data tentang potensi, minat, dan tantangan yang dihadapi siswa. Ini bisa dilakukan melalui observasi, tes, atau diskusi.

2.      Fleksibilitas dalam Kurikulum: Menyusun kurikulum yang fleksibel yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Hal ini dapat mencakup pilihan proyek, metode pengajaran, dan penilaian yang beragam.

3.      Kolaborasi dengan Siswa: Mengajak siswa untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan tentang apa yang mereka pelajari. Ini bisa dilakukan melalui diskusi kelas, survei, atau forum siswa.

4.      Pelatihan Guru: Memberikan pelatihan bagi guru untuk memahami strategi pengajaran yang memerdekakan dan teknik diferensiasi, sehingga mereka dapat lebih baik memenuhi kebutuhan siswa yang beragam.

5.      Umpan Balik Berkelanjutan: Menggunakan umpan balik dari siswa dan orang tua untuk mengevaluasi efektivitas keputusan yang diambil dan membuat perubahan yang diperlukan untuk meningkatkan pembelajaran.

 

 

·            Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang  pemimpin pembelajaran, seperti kepala sekolah, guru, atau pengambil kebijakan pendidikan, memainkan peran penting dalam membentuk masa depan siswa. Keputusan yang mereka ambil dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap kehidupan dan masa depan murid-muridnya dengan cara :

1.       Memberikan Akses terhadap Pembelajaran yang Relevan

2.       Meningkatkan Motivasi dan Minat Belajar

3.       Mendukung Perkembangan Karakter dan Nilai

4.       Memfasilitasi Inklusi dan Kesetaraan

·            Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Pembelajaran tentang dilema etika dan pengambilan keputusan memiliki keterkaitan yang erat dengan materi dalam program Calon Guru Penggerak (CGP), karena hal ini melibatkan pengembangan kemampuan guru dalam menghadapi situasi kompleks yang mempengaruhi siswa, kolega, dan lingkungan sekolah secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa keterkaitan antara pembelajaran dilema etika, pengambilan keputusan, dan materi CGP lainnya:

·            Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

pemahaman saya tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini:

  1. Dilema Etika dan Bujukan Moral:
    • Dilema etika adalah situasi di mana seseorang dihadapkan pada dua atau lebih pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi moral yang signifikan, namun tidak ada solusi yang jelas benar atau salah. Ini menguji kemampuan seseorang untuk memilih antara nilai-nilai atau prinsip moral yang saling bertentangan.
    • Bujukan moral adalah upaya untuk mempengaruhi atau membimbing seseorang untuk membuat keputusan berdasarkan prinsip-prinsip moral, bukan hanya kepentingan pribadi atau pragmatisme.
  2. 4 Paradigma Pengambilan Keputusan: Paradigma ini menjelaskan cara pandang yang dapat membantu dalam menavigasi dilema etika:
    • Kebenaran vs Kesetiaan: Misalnya, mengatakan kebenaran kepada atasan meskipun itu mungkin melanggar kesetiaan kepada teman.
    • Individualisme vs Kebaikan Bersama: Mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok kecil vs kepentingan masyarakat yang lebih luas.
    • Keadilan vs Kasih Sayang: Menegakkan aturan dan keadilan vs memperlakukan orang dengan kebaikan atau pengecualian karena belas kasih.
    • Jangka Pendek vs Jangka Panjang: Memilih keuntungan langsung dengan risiko jangka panjang atau berinvestasi dalam masa depan meski dengan konsekuensi langsung yang mungkin negatif.
  3. 3 Prinsip Pengambilan Keputusan: Prinsip-prinsip ini membantu dalam mengarahkan proses pengambilan keputusan etis:
    • Prinsip jangka panjang
    • Prinsip Peraturan
    • Prinsip kepentingan bersama
  4. 9 Langkah Pengambilan dan Pengujian Keputusan: Langkah-langkah ini merupakan panduan untuk proses sistematis dalam menyelesaikan dilema etika:

1.                  Identifikasi masalah atau dilema.

2.                  Identifikasi nilai-nilai yang terlibat.

3.                  Tentukan siapa yang terlibat dalam dilema.

4.                  Identifikasi pilihan-pilihan yang mungkin.

5.                  Timbang konsekuensi dari setiap pilihan.

6.                  Refleksi pada standar moral dan etika yang relevan.

7.                  Pertimbangkan perspektif pihak-pihak terkait.

8.                  Uji keputusan dengan prinsip-prinsip moral.

9.                  Ambil keputusan dan bertanggung jawab atas konsekuensinya.

Hal yang di luar dugaan mungkin datang dari seberapa kompleks dan kontekstualnya pengambilan keputusan etis. Meskipun langkah-langkah dan paradigma tersebut terlihat terstruktur, realitasnya bisa jauh lebih membingungkan karena berbagai faktor seperti tekanan sosial, emosi, dan ketidakpastian dalam hasil dari setiap keputusan yang diambil.

·            Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah bedanya saat itu proses yang saya lakukan berdasarkan musyawarah saja setelah mempelajari modul ini baru paham bahwa dapat dilakukan  secara terstruktur

·            Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Tentunya sangat berdampak dimana saya lebih cermat lagi dalam mengambil keputusan dengan menerapkan 9 langkah

·            Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sebagai Individu:

1.      Memperkuat Prinsip Moral dan Etika: Pemahaman tentang dilema etika, bujukan moral, dan paradigma pengambilan keputusan membantu saya memperkuat prinsip moral pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari, saya akan lebih siap untuk menghadapi situasi yang menuntut integritas moral, sehingga dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan berdasarkan nilai-nilai yang saya pegang.

2.      Menavigasi Dilema Pribadi: Setiap individu pasti menghadapi dilema, baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi. Dengan memahami kerangka dan langkah-langkah pengambilan keputusan etis, saya dapat menghadapi situasi sulit dengan lebih percaya diri, mengurangi keraguan, dan memiliki panduan yang jelas dalam memilih jalan terbaik.

3.      Pertumbuhan Personal: Proses belajar memahami berbagai prinsip dan paradigma membantu mengembangkan kemampuan refleksi diri, empati, dan tanggung jawab terhadap dampak keputusan yang saya buat, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Sebagai Pemimpin:

1.      Kepemimpinan yang Bertanggung Jawab: Sebagai seorang pemimpin, seringkali saya dihadapkan pada keputusan yang tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga pada orang lain. Mempelajari konsep etika dan pengambilan keputusan membantu saya memastikan bahwa keputusan yang saya buat didasarkan pada prinsip moral yang kuat, tidak hanya pada kepentingan pribadi atau pragmatisme. Ini meningkatkan rasa percaya dari anggota tim atau organisasi yang saya pimpin.

2.      Mengelola Konflik dan Dilema Organisasi: Dalam kepemimpinan, sering kali muncul situasi yang melibatkan konflik antara kepentingan individu dan kelompok, atau antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Dengan memahami 4 paradigma pengambilan keputusan, saya lebih siap untuk mengatasi dilema yang melibatkan banyak pihak, dan menemukan solusi yang adil serta bijaksana.

3.      Memberikan Teladan Etis: Pemimpin yang memahami dan mempraktikkan pengambilan keputusan etis dapat menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya. Ketika orang lain melihat pemimpin yang berpegang pada prinsip keadilan, hak, dan utilitarianisme, mereka akan lebih cenderung mengikuti jejak tersebut, menciptakan lingkungan yang lebih etis dalam tim atau organisasi.

4.      Mengelola Keberlanjutan Keputusan: Prinsip jangka pendek vs jangka panjang dalam pengambilan keputusan sangat relevan dalam kepemimpinan. Sebagai pemimpin, saya perlu memastikan bahwa keputusan tidak hanya memberikan manfaat sesaat, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi keberlanjutan organisasi dan kesejahteraan anggota tim.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koneksi Antar Materi , Kesimpulan dan refleksi modul 1.1

MENYAPA PANTAI

MEMBUAT COVER BUKU YANG MENARIK RESUME 27 BELAJAR MENULIS