Koneksi Antar Materi , Kesimpulan dan refleksi modul 1.1
Lampiran 1 Dasar-Dasar Pendidikan
·
Definisi
Pendidikan dan Pengajaran adalah
dua kata yang berbeda . Pendidikan adalah ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak’. Maksudnya
adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Sementara pengajaran lebih kepada
memberikan ilmu atau pengetahuan serta memberikan kecakapan tertentu.
·
Pertama kali harus diingat, bahwa
pendidikan Hanya Tuntunan dalam Hidup di dalam hidup tumbuhnya anak-anak
kita. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau
kehendak kita kaum pendidik.
·
Pentingnya
Tuntunan Pendidikan adalah agar
apa yang buruk bisa menjadi baik, apa
ang baik akan menjadi lebih baik.
·
Dasar Jiwa
Anak dan Kekuasaan Pendidikan yaitu keadaan jiwa yang asli menurut kodratnya
sendiri dan belum dipengaruhi oleh keadaan di luar diri. Dengan kata lain,
keadaan jiwa yang dibawa oleh anak ketika lahir di dunia. terdapat tiga aliran
yang berhubungan dengan soal daya Pendidikan. Pertama, yaitu anak yang lahir di
dunia itu diumpamakan seperti sehelai kertas yang belum ditulis,
sehingga kaum pendidik boleh mengisi kertas yang kosong itu menurut
kehendaknya. Kedua, ialah aliran negative, yang berpendapat, bahwa anak itu
lahir sebagai sehelai kertas yang sudah ditulisi sepenuhnya,
sehingga pendidikan dari siapapun tidak mungkin dapat mengubah karakter anak.
Ketiga, convergentie-theorie mengajarkan, bahwa anak yang dilahirkan itu
diumpamakan sehelai kertas yang sudah ditulisi penuh, tetapi semua
tulisan-tulisan itu suram. Pendidikan itu berkewajiban dan berkuasa
menebalkan segala tulisan yang suram dan yang berisi baik, agar kelak nampak
sebagai budi pekerti yang baik.
·
Watak manusia itu dibagi menjadi dua bagian. Pertama,
dinamakan bagian yang intelligible, yakni bagian yang berhubungan
dengan kecerdasan angan-angan atau pikiran (intelek) serta dapat berubah
menurut pengaruh pendidikan atau keadaan (dapat
dirubah) Kedua, dinamakan bagian yang biologis, yakni bagian
yang berhubungan dengan dasar hidup manusia (tidak
dapat dirubah).
·
Budi pekerti perlu untuk
dikuasai karena budi pekerti merupakan hasil dari bersatunya gerak,
pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga.
·
Jenis-Jenis
Budi Pekerti menurut Prof.
Spranger membagi budi pekerti menjadi 6 jenis, yakni bersandar pada Hasrat
orang pada:
1. Kekuasaan (machtsmensch),
2. Agama (religious
mench),
3. Keindahan (kunstmensch),
4. Kegunaan atau faedah (nutsmensch atau econimisch
mensch),
5. Pengetahuan atau kenyataan (wetenschaps) dan
6. Menolong mendermakan atau mengabdi (sociale mensch).
·
Naluri atau instinct disebabkan
pula oleh adanya naluri yang pokok, yang bertujuan agar terwujudnya keberlangsungan
keturunan menjadi dasar daeri naluri pedidikan.
·
Syarat-Syarat
Pengetahuan :
1. Ilmu hidup batin manusia (ilmu
jiwa, psychologie);
2. Ilmu hidup jasmani manusia (fysiologie);
3. Ilmu keadaan atau kesopanan (etika atau moral);
4. Ilmu keindahan atau ketertiban-lahir (estetika);
5. Ilmu tambo Pendidikan (ikhtisar cara-cara Pendidikan)
·
Peralatan
Pendidikan adalah alat-alat pokok, yakni cara- cara
mendidik. Perlu diketahui bahwa cara-cara mendidik beragam banyaknya, akan
tetapi dasarnya cara tersebut dapat dibagi menjadi:
1) memberi contoh;
2) pembinaan;
3) pengajaran;
4) perintah, paksaan dan hukuman;
5) tindakan;
6) pengalaman lahir
dan batin.
·
Umur anak didik dibagi menjadi 3
masa:
a) waktu pertama (1-7 tahun) dinamakan masa
kanak-kanak (kinderperiode);
b) waktu kedua (7-14 tahun), yakni masa pertumbuhan jiwa
pikiran (intillectueele periode); dan
c) masa ketiga (14-21 tahun) dinamakan masa terbentuknya
budi pekerti (sociale periode).
Lampiran 2. Metode Montesori,
Frobel dan Taman Anak.
‘Taman
Anak’ adalah Taman Siswa yang disesuaikan dengan metode Montessori dan Frobel
tersebut bertujuan agar kaum pendidik dan ibu-ibu dapat mengadakan metode
sendiri yang selaras dengan kehidupan bangsa kita.
a.
Montessori mementingkan pelajaran panca indra,
hingga ujung jari pun dihidupkan rasanya, menghadirkan beberapa alat untuk
latihan panca indra dan semua itu bersifat pelajaran. Anak diberi kemerdekaan
dengan luas, tetapi permainan tidak dipentingkan.
b.
b.
Frobel juga mendjaikan panca indra sebagai konsentrasi pembelajarannya, tetapi
yang diutamakan adlah permainan anakanak, kegembiraan anak, sehingga pelajaran
panca indra juga diwujudkan mengjadi barang-barang yang menyenangkan anak.
Namun, dalam proses pembelajarannya anak masih diperintah.
c.
c. Taman Siswa bisa dikatakan memakai kedua
metode tersebut, akan tetapi pelajaran paca indra dan permainan aka itu tidak
dipisah, yaitu dianggap satu. Sebab, salam Taman Siswa terdapat kepercayaan
bahwa dalam segala tingkah laku dan segala kehidupan anak-anak tersebut sudah
diisi Sang Maha Among (Pemelihara) dengan segala alat-alat yang bersifat
mendidik si anak.
Lampiran 3. Pidato Sambutan Ki Hadjar Dewantara.
o
Politik pendidikan kolonial di zaman
VOC dan Hindia Belanda;
Hanya
berfokus pada pengajaran intelektual agar para siap menjadi pegawai saja tidak
menanamkan pendidikan pentingnya budaya dan nilai – nilai keluarga. Hal ini
mengancam kenyamanan dan keamanan masyarakat sosial dalam melaksanakan kegiatan
sehari – harinya disawah, berkebun atau diladang.
o
Zaman ethik dan kebanggaan Nasional;
Meupakan
haluan
“kolonial lunak”, yang dalam sistem pendidikannya tetap menunjukan sifat
“intelektualistis”, pula “individualistis” dan “materialistis” dan tetap tidak
memperhatikan pendidikan pentingnya budaya dan
nilai – nilai keluarga seperti yang diperjuangkan R.A. Kartini.
o
Zaman bangkitnya jiwa merdeka;
Sudah
mulai memperhatikan pendidikan pentingnya budaya dan nilai – nilai keluarga dan
keberagaman beragama
o
Tentang pendidikan dan pendidikan
nasional;
Pendidikan yang berdasarkan garis-garis bangsanya
(kultural-nasional) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan
(maatschappelijk), yang dapat mengangkat derajat negeri dan rakyatnya, sehingga
bersamaan kedudukan dan pantas bekerjasama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan
segenap manusia di seluruh dunia.
o Tentang kebudayaan;
1.
Pemeliharaan kebudayaan harus bermaksud
memajukan dan menyesuaikan kebudayaan dengan tiap-tiap pergantian alam dan
zaman.
2.
Karena pengasingan (isolasi) kebudayaan
menyebabkan kemunduran dan matinya, maka harus selalu ada hubungan antara
kebudayaan dengan kodrat dan masyarakat.
3.
Pembaruan kebudayaan mengharuskan pula adanya
hubungan dengan kebudayaan lain yang dapat mengembangkan (memajukan,
menyempurnakan) atau memperkaya (yakni menambah) kebudayaan sendiri.
4.
Kemajuan kebudayaan harus berupa lanjutan
langsung dari kebudayaan sendiri (kontinuitet) menuju ke arah kesatuan
kebudayaan dunia (konvergensi) dan tetap terus mempunyai sifat kepribadian di
dalam lingkungan kemanusiaan sedunia (konsentrisitet).
Diatas adalah refleksi dari membuka,
membaca dan mencermati bagian semua pada 1.1.c. Bahan Pembelajaran - Modul
1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. Mohon
untuk diberikan masukan kritik dan saran untuk kebermanfaatan yang lebih baik.
Semangat bergerak untuk perubahan yang lebih baik.
Semboyan tokoh pendidikan
yang sangat terkenal dan menjadi teladan utama dalam melaksanakan tatanan
kehidupan pendidikan di Indonesia Kihajar Dewantara (Ingarso sun
tulodo, Ing Madyo mangung Karso dan Tut wuri Handayani) menjadi
jimat tersendiri bagi bangsa Indonesia dalam melaksanakan nilai - nilai
pendidikan dimana Pendidikan adalah ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak’.
Maksudnya adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka
dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Sementara itu pengajaran lebih
kepada memberikan ilmu atau pengetahuan serta memberikan kecakapan tertentu.
Pertama kali harus diingat, bahwa pendidikan Hanya Tuntunan dalam
Hidup di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya
anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum
pendidik.
Ki Hajar Dewantara
menekankan bahwa pendidikan tidak hanya sekedar intelektual, material dan
kekuasaan semata melainkan menananmkan nilai - nilai luhur kebudayaan, nilai -
nilai luhur keagamaan juga nilai - nilai luhur kekeluargaan yang selalu
mengedepankan budi pekerti agar tabiat yang buruk menjadi baik dan yang baik
menjadi semakin baik.
pentingnya mengedepankan
nilai - nilai budaya dalam sambutan ki hajar dewantara adalah :
1. Pemeliharaan
kebudayaan harus bermaksud memajukan dan
menyesuaikan kebudayaan dengan tiap-tiap pergantian alam dan zaman.
2. Karena pengasingan (isolasi) kebudayaan menyebabkan kemunduran dan
matinya, maka harus selalu ada hubungan antara kebudayaan dengan
kodrat dan masyarakat.
3. Pembaruan kebudayaan mengharuskan pula adanya hubungan dengan
kebudayaan lain yang dapat mengembangkan (memajukan,
menyempurnakan) atau memperkaya (yakni menambah) kebudayaan
sendiri.
4. Kemajuan kebudayaan harus berupa lanjutan langsung dari kebudayaan
sendiri (kontinuitet) menuju ke arah kesatuan kebudayaan dunia
(konvergensi) dan tetap terus mempunyai sifat kepribadian di dalam
lingkungan kemanusiaan sedunia (konsentrisitet).
selain itu dalam
pidatonya Ki Hajar Dewantara juga menyampaikan Pendidikan Nasional adalah
pendidikan yang berdasarkan garis-garis
bangsanya (kultural-nasional) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan
(maatschappelijk), yang dapat mengangkat derajat negeri dan rakyatnya,
sehingga bersamaan kedudukan dan pantas bekerjasama dengan lain-lain
bangsa
untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia.
Pendidikan budi pekerti harus menggunakan syarat-syarat sesuai dengan ruh
kebangsaan, menuju ke arah keluhuran dan kesucian hidup bati, serta
ketertiban
dan kedamaian hidup lahir; baik syarat-syarat baru yang berfaedah untuk
maksud
dan tujuan kita.
Relevansi pendidikan saat
ini dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara sangat terkait erat dimana seorang guru
harus bisa menjalankan falsafah Ingarso sun tulodo, Ing Madyo
mangung Karso dan Tut wuri Handayani sehingga peserta didik
dapat tumbuh kembang menjadi pribadi yang tangguh menurut cita - cita
pendidikan nasioanl tanpa kehilangan kepribadian baiknya.
Dalam
melaksanakan pemikiran ki Hajar Dewantara Ingarso sun tulodo, Ing
Madyo mangung Karso dan Tut wuri Handayani saya sudah
melaksanakanya meski belum dengan sangat baik tetapi sudah berusaha memenuhi 3
falsafah tersebut sehingga peserta didik saya tetap dapat memiliki kemerdekaan
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan saya sebagai guru
Ungkapkan Harapan dan Ekspektasi Anda terkait dengan
pembelajaran pada modul ini.
·
Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada diri Anda sebagai
seorang pendidik setelah mempelajari modul ini?
·
Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada murid-murid
Anda setelah mempelajari modul ini?
·
Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam
modul ini?
Your answer:
selaras dengan dengan
pembelajaran pada modul satu saya merasa tepat berada dalam komunitas calon
guru penggerak angkatan 11 ini karena sesuai dengan modul yang telah saya
pelajari
1. Harapan yang ingin
saya lihat sebagi seorang pendidik saya tidak pantang menyerah untuk mewujudkan
cita cita baik dalam melakukan perubahan sebagai pemimpin pendidikan. Alasanya
karena menjadi guru penggerak adalah sangat penting bagi perkembangan
pendidikan di Indonesia. Contohnya saya tidak berputus asa walaupun gagal di
program calon guru penggerak angakatan ke sembilan dan di program calon guru
penggerak angakatan ke sepuluh sekarang saya bertekad lulus di di program calon
guru penggerak angakatan ke sebelas.
2. Harapan yang ingin
saya l;ihat pada murid saya setelah mempelajari modul ini Saya
Berorientasi masa depan alasanya melihat peringkat pendidikan di Indonesia
masih sangat rendah karena berbagai faktor maka saya berfikir ini adalah sebuah
hal yang tidak bisa diabaikan terlalu lama karena akan berpengaruh terhadap
keberlangsungan peraaban bangsa Indonesia sehingga saya memutuskan untuk andil
dalam perbaikan dengan cara mengikuti program guru penggerak. Dimana saya yakin
bahwa murid - murid saya adalah generasi penerus yang tangguh yang dapat
dididik dan diberi pengajaran demi meneruskan cita - cita Ki Hajar Dewantara
3. Manfaat dari
memeplajari modul Dasar - Dasar Pendidikan metode pengajaran dan sambutan Ki
Hajar Dewantara ini saya disadarkan akan cita - cita pendidikan yang
diharapakan dari kurikulum merdeka dengan mengaitkan konsep pendidikan Ki
Hajar dewantara.
Modul
yang saya p[elajari sesuai dengan ekspektasi yang saya harapkan karena telah
dapat menyadarkan saya betapa pentingnya memahami pemikiran pendidikan
berdasarkan folosofi Ingarso sun tulodo, Ing Madyo mangung Karso dan
Tut wuri Handayani yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara dan saya
siap melaksanakan proses semaksimal mungkin
Komentar
Posting Komentar