MENJELAJAH ALAM DIGITAL YANG LUAS RESUME 14 GMLD

 01 Desember 2021

Pertemuan ke         : 14

Materi                    : Menjelajah Alam Digital Yang Luas

Pemateri                : Maesaroh, M.Pd.

Moderator              : Ms. Phia

Penulis                   : Rina Yunilawati


Alhamdulillah lagi-lagi rasa syukur ini tak tehingga mengingat segala nikmat dari Alloh. Jemari ini berasa haus menyentuh keyboard padahal semalam lembur 3 Resume pagi tadi selepas subuh 1 resume dan sambil mengiringi anak - anak mengerjakan soal PAS 2 resume. makin sering menulis makin ketagihan. Mungki inilah yang dimaksud dari kata-kata OM Jay "menulislah setiap hari dan temukan keajaiban".  Pertemuan kali ini terasa sangat berbeda dengan Duo Cetar Membahana sejagat raya berperan sebagai Nahkoda pertemua yaitu Ms.Phia yang tidak asing dengan Cetarnya mendampngi sosok yang saya yakin tidak kalah membahana Ibu Maesaroh, M.Pd. dalam Materi M enjelajah Alam Digital Yang Luas. 

Benar saya narasi yang dilontarkan di WA grup menggambarkan bagaimana Ms. Phia sedang dalam keadaan cetar menyampaikan gambaran pemateri yang katanya beliaulah yang memperkenalkan Ms. Phia kepada Om Jay. Heboh kelas akutnya menghipnotis saya untuk langsung membuat resume.



MENJELAJAH ALAM DIGITAL YANG LUAS

Sebagaimana menjelajah alam nyata yang sangat luas perlu membawa bekal yang cukup memadai untuk mengembara begitu pula menjelajahi Alam Digital yang luas harus memiliki 4 Pilar Lierasi  Digital sebagai bekal wajib sebagai berikut: 


 Ada 4 Pilar dalam mengembangkan Literasi Digital


1. Digital Culture cakap  bermedia digital dengan memanfaatkan media digital sebagai alat untuk menghubungkan satu koneksi menuju seluruh dunia

2. Digital Safety cakap dalam melindungi diri dan aset digital ketika sedang berada di dunia digita.

3. Digital Ethics etis dalam menggunakan dunia digital dengan tidak mengalahgunakan alat digital sebagai penyebar informasi hoaks

4. Digital Skill cakap secara tehnologi dalam menggunakan piranti digital sebagai alat untuk meng up grade pengetahuan. Adapun kecakapan dalam hal ini perlu meliputi 8 kecakapan diantaranya : Cakap dalam memakai ilmu Coding, Collaboration, Cloud software, Word Processing software, Screen Casting, Personal digital archiving, Information Evaluation, Use of social media



Dunia Digital yang sangat luas sudah tidak asing bagi siapapun dizaman sekarang ini. Di dunia ini selama ada jaringan internet  melalui berbagai akun sosmed dapat menjangkau semua alam Digital, namun sayangnya dengan keterbatasan bekal dan kemapuan yang dimiliki seringkali terjadi salah kaprah dalam penjelajahan Alam Digital terutama dalam kalangan pelajar. Penting bagi seorang guru atau orang tua memiliki Pilar-pilar Literasi Digital. 


Usia muda atau remaja berasal dari kata adolesence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolesence mempunyai arti yang lebih luas lagi, yaitu mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik. Usia remaja adalah masa peralihn dari kanak-kanak menuju dewasa yang dialaminya dalam tiga tingkatan yaitu praremaja 10-12 tahun, remaja awal 13- 16 tahun dan remaja akhir 17-21 tahun.Ditambahn lagi tuntutan model pendidikan melalui sistem Komputasi maka anak didik harus dibekali pengetahuan yang cukup untuk menjelajah dunia Digital tersebut.

Pemahaman literasi digital yang buruk akan berpengaruh pada dampak psikologis anak dan remaja yang cenderung menghina orang lain, menimbulkan sikap iri terhadap orang lain, mengakibatkan depresi, terbawa arus suasana hati terhadap komentar negatif, serta terbiasa berbicara dengan bahasa kurang sopan. Atas dasar pandangan tersebut, hal inilah yang menyebabkan dampak buruk dalam berinteraksi. Apabila mengalami terlalu banyak komunikasi  yang tidak baik dalam dunia digital maka dapat menyebabkan Digital Fatigue. 




Ciri-ciri Digital Fatigue:

Perasaan lelah, bosan, malas, dengan berbagai kegiatan digital seperti zoom meeting, webinar, media sosial, dan berbagai platform digital lain.
Mata terasa sakit, lelah, dan perih.
Mata terasa sakit, lelah, dan perih.
Sakit kepala dan migrain.
Nyeri otot leher, bahu, atau panggung.
Sensitif terhadap cahaya.
Gangguan pada fokus, konsentrasi, dan memori.
Merasa putus asa dan tidak berdaya.
Kewalahan menghadapi situasi yang berulang.
Badan terasa lemah, lesu, tidak bertenaga, dan malas bergerak.
Muncul perilaku yang aneh dan tidak wajar.

Dalam kondisi ini maka peran seorang guru  agar bisa menjadi steackholder dalam membangun dunia Digital bagi murid-muridnya adalah:

Selain itu ada 5 kecakapan yang harus dimiliki untuk menghindari Digital Fatigue :

1. Photo visual literacy
Kemampuan untuk membaca dan menyimpulkan informasi dari visual.
2. Reproduksi literacy
Kemampuan untuk menggunakan teknologi digital untuk menciptakan karya baru dari pekerjaan.
3. Percabangan literacy
Kemampuan untuk berhasil menavigasi di media non-linear dari ruang digital.
4. Informasi literacy
Kemampuan untuk mencari, menemukan, menilai dan mengevaluasi secara kritis informasi yang di temukan di web.
5. Sosio-emosional literacy 
Kemampuan yang mengacu pada aspek-aspek sosial dan emosional yang hadir secara online, apakah itu mungkin melalui sosialisasi, dan berkolaborasi, atau hanya mengkonsumsi konten.

Perlu juga memahami 8 elemen esensial dibawah ini untuk mengembangkan Literasi Digital :

1. Kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna digital.
2. Kognitif, yaitu daya pikir menilai konten.
3. Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual.
4. Komunikatif, yaitu memahami kinerja dan jejaring komunikasi di dunia digital.
5. Kepercayaan diri yang bertanggungjawab.
6. Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru.
7. Krisis dalam menyikapi konten.
8. Bertanggungjawab secara sosial.
yaitu yaitu pemahaman ragam konteks



Disadari atau tidak, mau atau tidak siap atau tidak saat inidunia berada dalam genggaman setiap orang, maka dari itu perlu kemampuan Literasi digital yang masif untuk memperkuat genggaman dan menguasai dunia digital.

Berikut ini 5 cara dalam meliterasi Media sosial:


1. Perhatian 
Kemampuan untuk mengidentifikasi ketika dibutuhkan fokus perhatian dan mengenali ketika multitasking bermanfaat. Perhatian dapat dicapai dengan memahami bagaimana pemikiran orang. Akan sulit untuk memfokuskan perhatian karena pikiran kita cenderung berjalan acak.
2. Partisipasi
Mengetahui kapan dan bagaimana partisipasi merupakan hal penting. Partisipasi memberikan pengguna pengalaman berbeda saat menjadi produktif. Partisipasi dalam media sosial dibedakan menjadi dua yaitu netizen aktif dan netizen pasif. Netizen aktif merupakan pengguna media sosial yang ikut memberikan post di media sosial. sedangkan pengguna pasif merupakan pengguna media sosial yang hanya membaca lini masa media sosial tanpa memberikan posting-an.
3. Kolaborasi
Pengguna dapat mencapai lebih dengan bekerja sama dibandingkan dengan bekerja sendirian. Melalui kolaborasi, redudansi dapat dihilangkan dan pekerjaan dapat didistribusikan. Adanya kolaborasi memungkinkan masyarakat berbagi sumber daya dan membangun ide lain.
4. Kesadaran jaringan
Jaringan sosial saat ini diperluas dengan adanya teknologi. Saat ini masyarakat dapat menjadi anggota dari newsgroup, komunitas virtual, situs gossip, forum dan organisasi lainnya. Pemahaman mengenai sosial dan jaringan teknis.
5. Pemakaian secara kritis
Pemakaian secara kritis adalah evaluasi tentang apa dan siapa yang dapat dipercayai. Sebelum mempercayai, mengkomunikasikan, atau menggunakan apa yang ditulis oleh orang lain, ada baiknya melakukan identifikasi. Cek klaim yang terdapat dalam informasi tersebut, lihatlah latar belakang penulis, sumber daya dan keakuratannya.


Literasi media sosial merupakan suatu keterampilan yang diperlukan untuk tetap dapat melakukan aktifitas ber-media sosial dengan aman. Sebagai warganet yang baik, kita harus mampu menyaring dan memberikan informasi yang edukatif. Sesuai dengan istilah media sosial yang dikemukakan oleh (Taylor & Francis Online, 2014) bahwa media sosial memiliki akronim sebagi berikut:
1. Sharing views
2. Optimizing Knowledge
3. Collaborating on projects
4. Investigating new ideas
5. Advocacy for your service provision
6. Learning from others
7. Making new connections
8. Enhancing your practice
9. Debating the future
10. Inspirational support
11. An essensial tools for your information toolbox

sayangnya animo masyarakat yang tidak bertanggung jawab dan tidak didukung dengan kecakapan digital membuat informasi yang menyebar menjadi simpang siur, sementara itu Negeri kita sedang dihadapkan dengan persiapan generasi emas ditahun 2045.


Pentingnya membangun mental digital sama dengan membangun mental generasi bangsa agar tidak menggelinding dalam simpang siurnya dunia digital yang tumpang tindi secara hybrid dengan dunia nyata sehingga generasi Indonesia mampu menjadi Pemimpin dimasa depan dan mempertahankan NKRI dari berbagai ancaman. Dengan kecakapan Digital diharapkan generasi penerus mempunya Literasi Kebangsaan.

Beberapa nilai-nilai karakter yang perlu ditanamkan diantaranya:
1. Nilai Kejujuran
2. Nilai Semangat
3. Nilai Kebersamaan atau Gotong royong
4. Nilai Kepedulian  atau solidaritas
5. Nilai Sopan santun
6. Nilai Persatuan dan Kesatuan
7. Nilai Kekeluargaan
8. Nilai Tanggungjawab



SALAM LITERASI
BELAJAR SEPANJANG HAYAT.




Komentar

  1. terima kasih sudah mengerjakan tugasnya dengan baik

    BalasHapus
  2. keren bu semangat tinggal 6 pertemuan semoga kita bisa lulus semua dan berhak menyandang gelar guru motivator literasi digital

    BalasHapus
  3. Resume yang cetar menggelegar. Penuh informasi

    BalasHapus
  4. Lengkap banget...
    Banyak dapat ilmu...
    Terimakasih sudah berbagi

    BalasHapus
  5. bermanfaat sekali
    terimakasih sharingnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

STRATEGI MENANGKAL HOAKS (RESUME PERTEMUAN KE 5 GMLD2)

ANAK MUDA BERANI BIKIN PERUBAHAN DI DUNIA DIGITAL GMLD 10

CIPTAKAN PELUANG MELALUI LITERASI DIGITAL RESUME 18 GMLD