MENGUAK DAPUR PENERBIT MAYOR (RESUME ke 22)

 23 Nopwmbwr 2021

Pertemuan         : 22

Materi                : Menguak Dapur Penerbit Mayor

Narasumber         : Edi S. Mulyana

Moderator            : Helwiyah


seorang publishing consultan pada penerbit ANDI Yogyakarta

Apalagi yang bisa dikatakan selain rasa syukur dengan Lafadz Alhamdulillah. Waktu menunjukan pukul 22.30 malam ini, namun saya mengingat kata-kata para senior dikelas Belajar Menulis gelombang 22 bahwa "bersusah-susah dahulu manis kemudian" . Malam ini demi mengejar ketertinggalan resume di pertemuan sebelumnya saya membelalakan mata didepan layar untuk mengiringi jari berselancar menyelesaikan resume pertemuan ke 22.

Pertemuan ke 22 kali ini kembali dimoderatori oleh Ibu helwiyah yang sangat bersemangat dalam mendampingi Narasumber Edi S. Mulyana seorang publishing consultan pada penerbit ANDI Yogyakarta yang menyampaikan materi Menguak Dapur Penerbit Mayor.

PROFIL NARASUMBER



Pendidikan

1.       S1 Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 1994

2.       S2 Magister Teknologi Informasi Fak. Elektro UGM Yogyakarta 2006

Riwayat Pekerjaan

  1. Staff LitBang Komputer PT. Wahana Semarang 1994-2000
  2. Staff EDP PT. Sanggar Film Semarang 1995-2001
  3. Dosen dan Ka. Lab. Komputer STMIK Proactive Yogyakarta 2000-2001
  4.  Dosen Tamu Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta 2001
  5.  Staff Net Business PT. Bayu Indra Grafika Yogyakarta 2001
  6.  Staff Litbang Penerbitan ANDI Jogjakarta 2002-2003
  7.  Operasional Penerbit ANDI Jogjakarta 2004 – 2019
  8.  Publishing Consultant & E-Book Development Penerbit Andi 2020- Sekarang
  9.  Founder Pasar Buku Digital ebukune.my.id dan bukudigital.my.id 2020 – Sekarang
  10.  Dosen Tamu Mata Kuliah Tipografi Dasar dan Tipografi Aplikasi, Universitas Esa Unggul Jakarta, 2021
  11. Dosen Tamu Penguji Tugas Akhir Fakultas Desain dan Industri Kreatif  Universitas Esa Unggul Jakarta, 2021

Karya tulis buku 

https://scholar.google.co.id/citations?user=tYwUNqsAAAAJ&hl=en&oi=ao

  1.     How to make money in BIG DATA, 2021
  2.     Lebih Mahir Word 2019, Untuk Penulisan Ilmiah, 2019
  3.     Teknik Modern Fotografi Digital 2007
  4.      Pengolahan Digital Image 2007
  5.      Menyusun Karya Tulis Ilmiah Menggunakan MS Office Word, 2006
  6.      Special Workshop: Teknik Airbrush Menggunakan Photoshop 2005
  7.      Menjadi Desainer Layout Andal dengan Adobe InDesign 2005
  8.      Pengenalan Protokol Jaringan Wireless Komputer 2005
  9.    Kupas Tuntas Ponsel Anda 2003 dll

MENGUAK DAPUR PENERBIT MAYOR

Pandemi Covid 19 yang melanda negeri ini sejak maret 2019 sangat mempengaruhi dunia penerbitan, tidak jarang penerbint yang gulung tikar karena pandmi ini. Belum lagi faktor perubahan teknologi di era 4.0 yang memaksa segala sesuatu serba online. oleh karena itu berbagai cara dilakukan oleh penerbit untuk tetap eksis.

Hal tersebut membuat dunia penerbitan bergegas untuk mengubah haluan visi misi mereka  ke arah yang lebih up to date, menyongsong perkembangan teknologi yang lebih cepat dibandingkan perkembangan dunia bisnis penerbitan secara umum. Beberapa penerbit yang tidak dapat mengikuti perkembangan jaman, akhirnya mencoba mengurangi intensitas  terbitan bukunya, akhirnya berimbas pula ke jumlah produksi buku mereka, dan memukul pula pendapatan atau omzet buku mereka. Penerbit buku di bawah IKAPI adalah penerbit yang mementingkan UUD (Ujung-ujungnya Duwit) untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Secara otomatis cash flow akan terganggu, sehingga banyak penerbit akhirnya berpindah haluan ke usaha yang lain.




Tugas dari penerbitan adalah memberikan layanan industri, dalam menerbitkan atau mempublikasikan hasil tulisan karya tulis dari penulis. Penerbit hanyalan Intermediary atau perantara dalam proses publikasi sebuah tulisan. Tugas penerbit adalah menghasilkan keuntungan dalam setiap terbitannya. Yang membedakan jenis penerbit adalah jumlah atau skala produksi setiap penerbit yang tergabung dalam anggota IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) tersebut. 

Skala produksi ini tercermin dalam ISBN setiap buku yang diterbitkan oleh penerbit tersebut. Melalui ISBN ini dapat diketahui penggolongan skala produksi buku yang dihasilkan setiap tahunnya.ISBN dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional, yang diberikan hak oleh negara untuk memberikan nomor-nomor yang dikuasainya tersebut untuk dibagikan kepada penerbit di Indonesia.



Gambar diatas adalah struktur nomor penerbitan .Angka di publication element tersebut adalah jumlah produksi buku yang dapat dilakukan oleh penerbit tersebut. Melalui angka ini terlihat berapa kekuatan produksi buku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit.

Secara materi terbitan, sebenarnya tidak ada bedanya antara penerbit mayor dan minor. Hanya terkadang penerbit tertentu memilih spesialisasi pada Genre tertentu untuk lebih fokus dalam produksi maupun pemasarannnya.Secara otomatis. karena jumlah produksi cukup besar, akhirnya penerbit mayor mempunyai saluran pemasaran yang cukup beragam yang sering disebut Omni channel Marketing selain tentunya outlet di Toko Buku.

Yang unik selama pandemi ini, adalah saluran toko buku mengalami kontraksi yang cukup dalam, sehingga saluran outlet toko buku pun menyesuaikan dengan berpindahnya proses pemasaran ke sistem online, maupun digitalisasi materi dalam bentuk media lain selain tulisan.

Tantangan ini cukup berat bagi penerbit-penerbit dengan skala kecil, yang hanya menggantungkan outletnya di toko buku. Karena imbas dari Lock Down diberbagai sentra ekonomi, menjadikan saluran penjualan buku semakin sulit bejualan.Media-media baru sebagai sarana promosi buku pun berkembang seperti channel Webinar, Podcast, IG Live, WA Group seperti group kita ini, mejadi media promosi yang luar biasa berkembang.

Hal yang unik dari Pandemi ini, adalah Buku Cetak masih menjadi pilihan pembaca dalam memperluas cakrawala pikirnya. Di samping Elektronik Book juga baru dalam taham embrio berkembang. Penerbit di mata pembaca, menjadi sama, semua berjuang untuk tetap bertahan. Sehingga menjadikan iklim penerbitan secara umum tidak surut selama pandemi ini. Kami selalu tidak kurang dalam menjaring tulisan-tulisan baru yang bermunculan luar biasa banyak selama pandemi.

2 Tahun pandemi, semangat menulis penulis-penulis baru sangat luar biasa, dengan banyaknya tulisan yang masuk di tempat kami. Hal ini tidak diimbangi dengan pendapatan penjualan buku yang sangat tergerus dengan adanya Covid 19 yang telah mencapai gelombang ke 2 di tahun 2021 ini.Saat awal tahun 2021 penerbit di Indonesia sebenarnya telah mulai bangkit, tercermin dalam pendapatan pada bulan Januari dan Februari yang telah mencapai tahap memantul ke atas.. tetapi sayang masuk di tahap gelombang 2 covid betul-betul meratakan pendapatan ke level yang terendah.

Dalam kondisi ini dengan terpaksa penerbit melakukan pengereman produksi yang luar biasa ketat dalam mengantisipasi hal tersebut. Strategi yang kami lakukan adalah dengan menyimpan tenaga, energi penulis yang tidak lekang oleh pandemi, dengan tetap melakukan seleksi-seleksi materi buku yang menarik.

Menabung naskah, adalah strategi dalam menghadapi pandemi, walaupun ada hal yang harus dikorbankan yaitu proses cetak fisik buku yang terkendala. Hal ini kami siasati dengan menerbitkan E-Book untuk mempercepat proses penerbitan sebuah buku.

E-book adalah sarana media digital buku yang masih sangat muda, sehingga proses bisnis yang menyertainya belum bisa mengangkat proses industri perbukuan yang masih ditopang cetak buku fisik.karena buku fisik masih akan tetap bertahan. Hanya proses pemasarannya yang berubah mengikuti jaman. E-book akan tetap menarik karena konsep praktis, ramah lingkungan, dan menjanjikan keterbukaan dalam menerima media-media lain sebagai media pengayaannya.

Google dengan sigap juga telah mencoba peruntungannya di era digital ini, yaitu dengan Google Books nya menjadikan konsep digitalisasi e-book sudah mencapai ke industrialisasi digital masa depan.

Tantangan penerbit baik mayor maupun minor, adalah kecepatan dalam menguasai teknologi ini ke depan. Dengan konsep multimedia, pengawinan antara media-media baru, menjadikan buku akan semakin mengecil secara fisik. Apalagi ada konsep baru dalam dunia digital yaitu konsep Metaverse yang diusung Face Book, dunia digital akan semakin kaya.

Penguasaan tekonologi harus cepat dikuasai, sehingga media buku di Indonesia akan semakin maju dalam mengikuti perkembangan jaman. Buku akan diperkaya dengan media-media lain, yang akan saling mengisi kelemahan secara alamiah media-media tradisional tersebut.

Sebagai penulis, harus memberikan pengayaan-pengayaan tidak hanya kemampuan tulis belaka. Akan tetapi pengembangan di sisi penulis harus diberdayakan. Seperti penulis mempunyai Blog, Channel Youtube, Twitter, Podcast, bahkan Tiktok yang dapat dijadikan sarana promosi tulisan bukunya. Hal ini akan memberikan rangsangan penerbit untuk tidak mampu menolak tulisan penulis karena followernya banyak, menjadi selebriti di Youtube, atau Selebriti Tiktok.

Ke depan materi tulisan tidak akan melulu dijadikan alasan penerbit dalam menerbitkan buku, akan tetapi kemampuan penulis dalam membantu mempromosikan tulisan lah yang menjadi primadona penulis-penulis baru. sehingga tidak tergantung pada penerbit mayor atau indie karena promosi banyak dilakukan langsung oleh para penulis. sebut saja tere liye 

https://www.google.com/search?tbm=bks&q=tere+liye

Baik penerbit mayor maupun penerbit indie tidak akan saling berebut pasar karena kedepan bukan lagi berebut penerbit melainkan berebut konten. Dengan terbentuknya dunia Digital semua akan saling diuntungkan baik, Penerbit, Penulis, penjual maupun pembaca.Yang terpenting dalam penerbitan adalah pelajari karakteristiknya dengan cara meneliti hasil terbitanya. sementara untuk penjualan tergantung dengan promosi, konten dan followersnya. 

Digitalisasi membuat kedudukan penullis, penerbit dan penjual menjadi sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STRATEGI MENANGKAL HOAKS (RESUME PERTEMUAN KE 5 GMLD2)

ANAK MUDA BERANI BIKIN PERUBAHAN DI DUNIA DIGITAL GMLD 10

CIPTAKAN PELUANG MELALUI LITERASI DIGITAL RESUME 18 GMLD